Harga Emas Tergelincir Jelang Akhir Pekan

Harga emas melemah ke posisi terendah dalam dua minggu ini. Pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) yang didukung ketegangan politik telah menekan harga emas.

Analis SIA Wealth management, Clon Cieszynski menuturkan, perdagangan menjelang akhir pekan menunjukkan dampak gejolak politik mereda. Investor fokus terhadap ekonomi dan kebijakan moneter the Federal Reserve.

Melihat kondisi itu, harga emas untuk pengiriman April turun US$ 5,5 atau 0,4 persen ke posisi US$ 1.312,30 per ounce. Level harga emas itu terendah sejak 1 Maret 2018. Harga emas melemah 0,9 persen selama sepekan ini. Pelemahan tersebut terbesar sejak 23 Februari.

“Penutupan harga emas lebih rendah pada pekan ini menunjukkan tren pelemahan. Ini bisa melihat level support emas di US$ 1.300-US$ 1.305 per ounce,” ujar Mark O’Byrne, Direktur Goldcore, seperti dikutip dari laman Marketwatch, Sabtu (17/3/2018).

Namun, dia menuturkan, level tersebut juga perlu didukung seiring ada faktor penguatan mendukung harga emas. Sentimen mulai dari gejolak pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, risiko perang dagang, dan meningkatnya ketegangan antara AS, Inggris, NATO dan Rusia.

Pelaku pasar mempertimbangkan potensi gejolak pemerintahan Trump. Hal ini mengingat kabar Trump berencana memberhentikan penasihat keamanan nasional HR.McMaster. Sebelumnya Trump memberhentikan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson.

Kekhawatiran perang dagang juga bayangi harga emas. Investor cemas kemungkinan perang dagang antara AS dan mitra dagang utama. Apalagi Gedung Putih menyatakan akan memangkas defisit perdagangan dengan China sebesar US$ 100 miliar dengan penerapan tarif.

Harga emas pun tergelincir dipicu indeks dolar AS naik kurang dari 0,1 persen ke posisi 90,22. Sepekan ini, indeks dolar AS juga hanya naik tipis. Harga emas dan dolar AS biasanya bergerak terbalik seiring pergerakan dolar AS dapat pengaruhi daya tarik harga logam bagi pemegang mata uang lainnya.

“Terlihat komoditas menjadi sasaran untuk mengantisipasi AS akan menargetkan China secara lebih langsung dengan berbagai batasan perdagangan yang spesifik sehingga kurangi permintaan logam dan komoditas China lainnya,” ujar Analis ACLS Global, Marshall Gittler.

Ia menambahkan, perang dapat mendorong dolar AS. Namun ia menilai China tak akan membiarkan hal itu terjadi dan kemungkinan membalas aksi AS.

Menjelang akhir pekan ini, rilis data ekonomi ada yang keluar antara lain produksi industri naik 1,1 persen, perumahan melemah 7 persen pada Februari. Data ekonomi menjadi perhatian pelaku pasar  terutama menjelang keputusan bank sentral AS atau the Federal Reserve mengenai kebijakan moneter pada pekan depan.  Data ekonomi jadi pertimbangan bank sentral AS untuk membuat keputusan kebijakan moneter.

Data logam lainnya antara lain harga perak untuk pengiriman Mei melemah 0,9 persen ke posisi US$ 16.272 per ounce. Harga tembaga melemah 0,6 persen menjadi US$ 3.108 per pound.

Post Terkait