Harga Batu Bara Naik 42%, Laba Adaro Melonjak Jadi Rp 3,97 T

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berhasil meraup laba periode berjalan US$ 299 juta atau setara dengan Rp 3,97 triliun (kurs Rp 13.300/US$) pada semester I-2017. Realisasi tersebut naik 76% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Catatan positif tersebut, turut disumbang perbaikan penjualan batu bara yang merupakan lini bisnis perusahaan. Harga jual batu bara rata-rata naik 42% dari periode yang sama tahun lalu akibat membaiknya fundamental pasar batu bara dengan dukungan penguatan harga global. Ini yang menyebabkan kenaikan harga jual rata-rata bagi perusahaan.

Hal ini menghasilkan kenaikan pendapatan usaha sebesar 32% y-o-y menjadi US$ 1.549 juta. Divisi pertambangan dan perdagangan batu bara ADRO menyumbangkan 93% dari total pendapatan usaha perusahaan.

Pada semester I-2017, produksi batu bara ADRO mencapai 25,13 Mt sementara penjualan batu baranya mencapai 25,27 Mt.

Kenaikan pendapatan tersebut berhasil menutup kenaikan biaya produksi.

Beban pokok pendapatan naik 16% (y-o-y) menjadi US$ 1,016 juta yang terutama disebabkan oleh kenaikan biaya penambangan karena meningkatnya harga bahan bakar minyak dan pembayaran royalti akibat kenaikan harga jual rata-rata.

Saat ini, ADRO telah melakukan lindung nilai alias hedging untuk sekitar 50% dari kebutuhan bahan bakar tahun 2017 pada harga yang lebih rendah daripada anggaran demi memitigasi risiko yang terkait dengan fluktuasi harga minyak.

“Di tengah ketidakpastian pasar batubara, kami tetap yakin dengan fundamental jangka panjang dari pasar ini, yang didukung oleh perkembangan di Asia. Kami terus berfokus pada keunggulan operasional dan efisiensi biaya di ketiga pilar pertumbuhan perusahaan dalam rangka menyeimbangkan karakteristik batubara yang siklikal,” kata Presiden Direktur & Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir dalam keterangan tertulis, Senin (28/8/2017).

Post Terkait