Glodok Cs Sepi, Apa Benar Daya Beli Masyarakat Turun?

Kementerian Keuangan menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan cukup kuat di tengah kondisi daya beli masyarakat turun yang menyebabkan pusat perbelanjaan sepi pembeli. Hal ini karena Kemenkeu memprediksi pertumbuhan ekonomi di semester I sebesar 5,1% dan hingga akhir tahun sebesar 5,2%.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Suahasil Nazara mengatakan, pemerintah melihat ada beberapa hal yang mendukung pertumbuhan ekonomi ini, di antaranya inflasi yang masih terjaga stabil. Selain itu juga masih di bawah target pemerintah.

“Ya menurut saya, kondisinya bahwa pertumbuhan itukan masih cukup kuat ya, kita perkirakan semester I ini 5,1%, antisipasi kita seluruh tahun 5,2%. Daya beli tetap ter-support, terdukung, kita berharap tahun ini konsumsi bisa di 5,1%,” ungkapnya di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu 26 Juli 2017 malam.

Menurutnya di periode Ramadan laku juga pemerintah bisa mengendalikan harga sehingga inflasi sangat terjaga dan rendah. Sehingga pemerintah yakin perekonomian masih bergerak dengan sangat baik.

“Tentu kita memerhatikan terus, kita menunggu angka resmi pertumbuhan ekonomi yang akan dikeluarkan oleh BPS awal Agustus,” jelasnya.

Selain itu, ia menilai pertumbuhan ekonomi akan tetap tunbuh, hanya saja beberapa sektor seperti, properti, pusat perbelanjaan menurun dikarenakan dinamika dan siklus saat puasa dan Lebaran yang biasanya daya beli makanan meningkat tapi karena berbarengan dengan masuk anak sekolah maka pengeluaran terfokus ke pendidikan.

“Biasanya pengeluaran yang tinggi itu di pendidikan, tapi saya rasa tetap suport perekonomian diestimasi year on year (yoy) 5,2%. Saya rasa sih kita inflasikan tetap terjaga, sekarang sekitar 4,3% yoy, kami yakin itu akan turun, sehingga daya beli akan meningkat ke depannya, di dunia saya rasa ekspor kita masih tetap positif, harga komoditas untuk oil memang tidak setinggi yang diharapkan, di APBN juga dilakukan penyesuaian,” tukasnya.

Post Terkait