Gejolak Nilai Tukar Diprediksi Hingga Maret

Gejolak kurs rupiah terhadap dolar AS diperkirakan akan terus terjadi hingga 20-21 Maret 2018 ketika Bank Sentral AS, The Federal Reserve, mengumukan kebijakan suku bunga acuannya, kata Gubernur Bank Indonesia. “Bagi Indonesia, kami memahami dan menganggap wajar dinamika yang terjadi. Jadi hingga nanti di Maret ada kenaikan suku bunga acuan The Fed, baru kemudian ada kondisi yang stabil,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di sela Konferensi Tingkat Tinggi BI-IMF “New Growth Models in a Changing Global Landscape” di Jakarta.

Pada selasa pagi, kurs refrensi Jakarta Interbank Spot Dolar AS (Jisdor) dibuka Rp13.650 per dolar AS Di pasar spot, Selasa siang ini, rupiah diperdagangkan di Rp13.667 dolar AS. Sejak awal tahun hingga 21 Februari 2018, nilai tukar rupiah mencatat depresiasi -0,24 persen. Agus mengatakan volatilitas atau tingkat gejolak rupiah hingga akhir Februari 2018 sebesar 7-8 persen. Tingkat gejolak tersebut disebabkan perbaikan data ekonomi AS, dan juga kebijakan Negara Paman Sam mengenai pelonggaran pajak yang akan memicu peningkatan kebutuhan pendanaan oleh pemerintah AS.

Kebutuhan pendanaan pemerintah AS itu akan ditutupi, salah satunya, melalui obligasi. Maka dari itu, imbal hasil obligasi AS dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan. “Kita juga lihat rapat The Fed yang mengesankan ekonomi Amerika Serikat ada perbaikan, sehingga memicu dana-dana kembali ke AS,” tuturnya.

Agus mengatakan Bank Sentral siap melakukan stabilisasi ke pasar jika nilai tukar rupiah sudah tidak sesuai fundamental perekonomian. “BI akan tetap memberikan keleluasaan kepada nilai rupiah untuk mencerminkan kondisi fundamentalnya. Kalau sudah di luar nilai fundamental tentu BI akan ada di pasar,” ujarnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih cukup kompetitif meski sempat mengalami fluktuasi akibat membaiknya perekonomian AS. “Indonesia nilai tukarnya masih cukup kompetitif dan stabil,” kata Sri Mulyani. Ia menjelaskan nilai tukar rupiah telah memiliki daya tahan ketika The Fed (Bank Sentral AS) memutuskan untuk melakukan normalisasi kebijakan moneter pada 2017 dan 2018.

Untuk itu Sri Mulyani mengharapkan kurs rupiah terhadap dolar AS terus fleksibel dan stabil untuk bisa menciptakan daya saing bagi sektor perdagangan yang telah membaik sepanjang 2017. “Paling penting adalah menggambarkan rupiah cukup fleksibel tapi tetap stabil, yang bisa menciptakan kepastian terhadap dunia usaha, namun tidak menimbulkan daya kompetitif yang tererosi,” ujarnya. Melihat kondisi saat ini, ia memastikan pemerintah akan terus menjaga ekonomi dari dinamika global termasuk kebijakan moneter, fiskal maupun perdagangan AS, agar tidak terlalu memengaruhi pergerakan rupiah.

Post Terkait