Emas Wait and See Hasil FOMC

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (11/10) menjadi agenda penting yang memengaruhi laju aset haven, emas.

Dalam FOMC tersebut, The Fed diperkirakan memberikan pernyataan hawkish terkait penaikan Fed Fund Rate pada Desember 2017 dan dimulainya program normalisasi aset bank sentral Amerika Serikat pada bulan ini.

Proyeksi itu berasal dari data inflasi dan tenaga kerja AS yang membaik. Data inflasi AS pada September 2017 diperkirakan naik menjadi 0,6% dari sebelumnya 0,4%.

Adapun, data tenaga kerja AS periode September 2017 menunjukkan hasil positif. Data Non Farm Payroll (NFP) turun tajam menjadi 33.000 pekerja dari sebelumnya 156.000 pekerja. Di samping itu, data pengangguran juga turun menuju 4,2% dari sebelumnya 4,4%.

Sementara itu, ekspektasi tingkat suku bunga CME 30-day Fed Fund Futures bergerak naik mendekati 92% untuk kenaikan suku bunga pada Desember, naik dari minggu lalu di angka 76%.

Kondisi ini diakui akan menekan harga emas pada pekan ini meski disinyalir bisa menguat akibat panasnya geopolitik AS dan Korea Utara.

Mark To, Head of Research Wing Fung Financial Group yang berbasis di Hong Kong, menuturkan memanasnya tensi geopolitik antara AS dan Korea Utama menjadi risiko yang membayangi pasar dan untuk sementara menopang harga emas.

“Mayoritas bank sentral akan memperketat atau menormalisasi kebijakan moneternya. Langkah tersebut akan sangat membatasi potensi upside emas,” ujarnya seperti dikutipReuters, Rabu (11/10).

To memperkirakan tingkat resistan emas dalam waktu dekat berada pada level US$1.300 per troy ounce.

Pada perdagangan Rabu (11/10) pukul 08:03 WIB, harga emas Comex kontrak Desember 2017 turun 0,60 poin atau 0,05% menuju level US$1,293 per troy ounce. Sementara itu, harga emas spot naik 2,22 poin atau 0,17% menuju level US$1,290,78 per troy ounce.

Post Terkait