ECONOMIC VIEWS: Kapitalisasi Tumbuh 29.555% hingga Beras Impor Masuk Indonesia

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan, sejak dimulainya era swastanisasi pasar modal pada 13 Juli 1992 silam, telah mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan.

Sementara itu, Grup Astra dan kelompok usaha Djarum kemarin dalam waktu hampir bersamaan mengumumkan investasi triliunan rupiah di Go-Jek.

Di sisi lain, musim panen raya saat ini berbarengan dengan beras impor yang sebelumnya direncanakan untuk menstabilkan lonjakan harga di awal tahun. Tercatat dari 281 ribu ton yang rencananya diimpor, sudah datang 57 ribu ton beras asal Vietnam.

Ketiga berita tersebut merupakan berita-berita populer selama akhir pekan kemarin di kanal Okezone Finance. Berikut berita selengkapnya:

BEI: Kapitalisasi Tumbuh 29.555% Sejak Swastanisasi Pasar Modal

Nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) telah tumbuh 29.555% menjadi Rp7.235,83 triliun dari Rp24,4 triliun pada lebih dari 25 tahun yang lalu. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Nilai kapitalisasi pasar BEI saat ini telah melampaui total aset perbankan per November 2017 yang sebesar Rp7.222 triliun. Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang swastanisasi bursa efek juga mencatatkan persentase pertumbuhan yang paling tinggi dibandingkan bursa negara lain yakni 2.272% menjadi 6.505,52 poin per akhir pekan ini dari level di 13 Juli 1992 silam sebesar 274,24 poin.

Sementara persentase pertumbuhan IHSG melampaui bursa Thailand sebesar 104%, Malaysia 190%, Singapura 132%, Jepang 37%, Amerika Serikat (Indeks Dow Jones) 692%, serta Inggris 165%. Dari sisi outstanding obligasi di BEI juga mengalami pertumbuhan selama lebih dari 25 tahun terakhir sebesar 315% menjadi Rp2.487 triliun dari Rp598,7 triliun di 1992 silam. Pergerakan IHSG selama sepekan terakhir mengalami pelemahan 1,86% menjadi 6.505,52 poin. Nilai kapitalisasi pasar BRI juga berubah 1,84% menjadi Rp7.235,83 triliun.

Rata-rata nilai transaksi perdagangan harian pada pekan kemarin juga mengalami koreksi 6,26% menjadi Rp9,50 triliun dari Rp10,14 triliun sepekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian IHSG mengalami peningkatan 16,5% menjadi 14,61 miliar unit saham dari 12,54 miliar unit saham sepekan sebelumnya, dan rata-rata frekuensi harian pada pecan kemarin ikut berubah 7,45% menjadi 374,67 ribu kali transaksi dari 404,84 ribu kali transaksi pada pekan lalu.

Investor asing membukukan aksi jual bersih pada pekan kemarin dengan nilai Rp 5,3 triliun. Sepanjang tahun ini investor asing membukukan aksi beli bersih senilai Rp 1,75 triliun. Kata analis Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi, IHSG bergerak melemah seiring dengan mayoritas bursa saham eksternal menyusul imbal hasil selain saham di Amerika Serikat (AS) mengalami peningkatan.”Investor saham belum merasa nyaman dengan kenaikan imbal hasil-imbal hasil di AS,”ujarnya.

Dirinya juga menambahkan bahwa harga komoditas dunia yang mengalami tekanan turut memberi dampak negatif bagi saham-saham sektor pertambangan di BEI. Di sisi lain, investor asing yang kembali melanjutkan aksi lepas saham turut menjadi sentimen negatif bagi IHSG. Saham Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan Astra International Tbk (ASII) menjadi salah satu saham yang paling banyak dijual asing.

Di sisi lain, lanjut dia, pelemahan mata uang rupiah hingga menembus level Rp13.600 per dolar AS turut menjadi faktor negatif bagi pasar saham domestik. Diharapkan Bank Indonesia melakukan intervensi sehingga fluktuasi rupiah dapat lebih stabil. Kemudian dalam pengembangan pasar modal, BEI terus melakukan program edukasi dan sosialisasi dilakukan di berbagai kota demi meningkatkan jumlah investor pasar modal.

Disuntik Rp2 Triliun, Go-Jek Siap Kembangkan UMKM

Perusahaan yang berawal dari layanan ojek online itu bertekad memanfaatkan sebagian dana untuk mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi mitranya.

Kesepakatan ini sekaligus menjawab tantangan yang sebelumnya menyebut investor lokal cenderung enggan menyuntikkan modal di perusahaan start up dalam negeri. Namun, Astra dan Djarum membuktikan bahwa dua perusahaan konglomerasi itu sanggup menggelontorkan investasi ke Go-Jek. Astra menanamkan modal sebesar USD150 juta atau sekitar Rp2 triliun dalam kesepakatan tersebut. Sedangkan Djarum yang berinvestasi melalui anak usahanya, PT Global Digital Niaga (GDN), kendati tidak menyebutkan angkanya, meyakini kerja sama tersebut akan dapat membantu dua pihak dalam mengembangkan ekonomi digital.

Dalam beberapa tahun terakhir, Go-Jek menjadi incaran investor besar untuk membenamkan investasinya. Tak tanggung-tanggung, daya tarik perusahaan yang didirikan oleh Nadiem Makarim itu berhasil mendatangkan Tencent, JD.com, KKR, Warburg Pincus, Sequoia Capital, Northstar Group, DST Global, dan NSI Ventures. Raksasa internet global Alphabet, induk usaha Google, bahkan belum lama ini mengumumkan komitmennya untuk mendanai Go-Jek senilai hampir Rp16 triliun.

Dengan begitu, total nilai perusahaan Go-Jek diperkirakan telah mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp54 triliun. Setelah Astra dan Djarum berinvestasi, nilai perusahaan Go-Jek yang kini merambah bisnis pembayaran diperkirakan terus bertambah. Apalagi, pihak Astra terang-terangan menyatakan bahwa Go-Jek merupakan pemain utama dalam bidang ekonomi digital di Indonesia. ”Semua ini (kerja sama dengan Go-Jek) dilakukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi lndonesia,” kata Presi den Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto di Jakarta.

Astra pun berharap kolaborasi dengan Go-Jek dapat memberikan nilai tambah bagi bisnis perseroan serta mengakselerasi inisiatif di bidang digital. Hal ini sejalan dengan komitmen Astra untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah di Indonesia. Sekadar diketahui, Astra merupakan pemain utama di pasar mobil nasional dengan menguasai 56% penjualan. Demikian juga di sektor kendaraan roda dua, Grup Astra merajai penjualan sepeda motor dengan pangsa pasar mencapai 75%. Sementara itu, kelompok usaha Djarum yang menyuntikkan dana ke Go-Jek melalui Global Digital Niaga (GDN), anak usaha Global Digital Prima (GDP), menilai Go-Jek memiliki kemampuan menghadirkan layanan online solution yang inovatif dan aplikatif sehingga menjangkau konsumen secara luas.

”Ada banyak kesamaan antara GDN dan Go-Jek yang bisa di kolaborasikan dalam hal membuka akses yang semakin luas bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi digital, pengembangan jasa logistik, merchandising,” ungkap CEO PT Global Digital Niaga Kusumo Martanto. Dia menambahkan, GDN berharap kolaborasi dan sinergi yang terjadi dapat membawa dua perusahaan menjadi local champions yang maju dalam membangun ekosistem digital jadi semakin besar. GDN bukanlah nama asing di industri digital. Perusahaan tersebut mengelola toko online Blibli.com sejak 2011.

Belum lama ini GDN juga melakukan ekspansi dengan membeli saham perusahaan aplikasi tiket online yakni Tiket.com. Sementara itu, Chief Executive Officer dan Founder Go- Jek Nadiem Makarim menyebutkan, kerja sama dengan Astra merupakan awal untuk membangun ekosistem digital bersama perusahaan terbesar baik dari perusahaan digital mau pun tradisional. Dengan kolaborasi itu, dia berharap dapat membangun ekosistem digital di Indonesia yang nanti bisa berkembang menjadi superpower di sektor digital.

Terkait kerja sama dengan GDN, ujar Nadiem, sebagai sesama pemain lokal di sektor konsumer, keduanya memiliki visi yang sama untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. GDN dan Go-Jek meyakini teknologi dapat menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini jumlah pengemudi Go-Jek yang terdaftar mencapai lebih dari 1 juta pengemudi dengan lebih dari 125.000 mitra usaha, dan 30.000 penyedia jasa di platform Go-Jek, yang menyediakan berbagai jenis jasa seperti transportasi, pengantaran makanan, kurir barang, jasa kebersihan, hingga keperluan pembayaran.

”Kami memfasilitasi lebih dari 100 juta transaksi setiap bulannya,” ujar Nadiem. Kolaborasi antara Astra dan Go-Jek mendapat dukungan penuh dari Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Menurutnya, kerja sama antar perusahaan atau organisasi yang berbasis teknologi digital dapat memberikan keuntungan untuk meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia. ”Dengan terus meningkatkan kerja sama, kita akan mendorong penguatan ekonomi di ASEAN dan dunia. Kita adalah leadernya,” kata Rudiantara saat menyaksikan penandatanganan kerja sama Astra Go-Jek di Jakarta.

Dia menganggap, saat ini pola pikir bisnis sudah perlu beralih ke arah pemanfaatan teknologi digital. Hal tersebut di sebabkan perkembangan teknologi yang semakin cepat sehingga perlu menyesuaikan. Pengamat media industri digital dari Indonesia In formation and Communication Technology Institute (IICTI) Heru Sutadi mengatakan, kerja sama antara PT Astra Internasional Tbk dan Go-Jek Indonesia sangat tepat dan akan menguntungkan dua belah pihak. Astra sebagai perusahaan produsen kendaraan bisa menawarkan kemudahan bagi para mitra Go-Jek untuk memiliki sepeda motor maupun mobil. ”Banyak yang memperkirakan, investasi Astra ke Go-Jek tidak secara langsung, lebih ke penempatan kendaraan, karena Go-Jek bertindak sebagai penyedia platform aplikasi yang membutuhkan unit kendaraan,” urainya.

Heru mengungkapkan, strategi bisnis ini sebenarnya sudah dijalankan oleh start up lain yakni Grab Indonesia. Para mitra Grab bisa memperoleh dan memiliki unit kendaraan dengan cara mengangsur setiap bulan. Dia menjelaskan, ke depan Go-Jek akan tetap fokus pada bisnis layanan antar jemput orang mau pun barang. Di sisi lain, perlahan-lahan Go-Jek juga mu lai mengembangkan bisnis financial technology (fintech). Saat ini pengelolaan layanan keuangan Go-Jek secara digital cukup besar, di dukung mitra pengemudi yang tembus di angka 1 juta.

”Misalnya saja satu orang mitra meraih pendapatan melalui Go-Pay Rp100.000. Jika dikali 1 juta driver, itu per hari mencapai Rp100 miliar, sebulan sudah mencapai Rp3 triliun, belum lagi untuk layanan lain, jumlahnya pasti lebih banyak,” paparnya. Untuk itu, katanya, Go- Jek harus bisa mengatur secara tepat pengelolaan dana yang telah diraihnya. Di sisi lain, kepercayaan masyarakat terhadap layanan pembayaran Go-Jek secara digital juga harus di jaga. Dengan pengembangan bisnis fintech yang tepat, ke depan Go-Jek bisa menjadi perusahaan start up yang lebih besar lagi. Di sisi lain, ujar Heru, saat ini belum banyak perusahaan dari Tanah Air yang berani menyuntikkan modal ke perusahaan rintisan atau startup. Hal ini karena para investor masih mencari bentuk kerja sama model bisnis yang pas dengan pelaku usaha.

”Pemikiran investor di Indonesia, jika menanamkan investasi triliunan harus cepat untungnya, pada hal start up tidak seperti itu,” kata Heru di Jakarta.

Beras Impor Bakal Banjiri Indonesia hingga Akhir Februari

Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, selama Febuari 2018 seluruh beras impor tiba di Jakarta. Di mana dari jumlah beras impor yang sudah tiba sebanyak 57 ribu ton baru dari Vietnam.

“Thailand belum sampai. Itu akan masuk berturut-turut sampai dengan akhir Febuari,” tuturnya kepada Okezone.

Siti tidak mendetailkan kapan lagi waktu beras impor datang dan berapa jumlahnya. Dia hanya mengatakan, beras akan kembali datang dalam bulan ini. “Sampai akhir Febuari masuk,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sudah mendatangi Kementerian Koordinator bidang Perekonomian untuk melaporkan daerah di Indonesia yang sudah panen padi di awal Febuari 2018.

Bahkan Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KNTA) Kalimantan Selatan Muharram berpendapat, provinsinya yang kini berpenduduk empat juta jiwa belum perlu mendatangkan beras impor.

Pasalnya produksi pada atau beras Kalse tiap tahun meningkat serta surplus, sebagaimana keterangan Dinas Ketahanan Pangan, serta Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura provinsi setempat.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, untuk mengimpor beras diperkirakan butuh dana sebesar Rp 3,6 triliun. Dana tersebut setelah menghitung dari mulai harga beras, bea masuk, asuransi dan beberapa hal lainya yang diperkirakan Rp7.300.

Jumlah tersebut langsung dikalikan jumlah beras yang diimpor. Artinya Rp7.300 dikalikan 500.000 ton beras hasilnya sekitar Rp3,6 triliun.

Menurut Djarot, dana sebesar Rp3,6 triliun nantinya berasal dari kas perseroan. Adapun posisi keuangan kas Bulog saat ini sebesar Rp9,8 triliun.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kas Bulog dan juga kreditor. Dimana kreditor yang dimaksud merupakan kreditor resmi dan bukanlah suplayer.

Lebih lanjut Djarot mengatakan, nantinya proses impor tersebut dilakukan secara profesional atau business to business (B to B). Peserta yang mengikuti lelang diharuskan terdaftar sebagai asosiasi pengekspor beras di negara-negara yang telah ditunjuk.

Sebelumnya, Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, rencananya ada 281 ribu ton beras yang akan diimpor, dari rencana sebelumnya 500 ribu ton. Beras tersebut akan didatangkan dari dua negara Thailand dan Vietnam.

Dia menerangkan, beras impor yang sudah datang itu merapat di beberapa pelabuhan. Seperti di Pelabuhan Tenau, Kupang, Nusa Tenggara Timur, sudah dibongkar sebanyak 10 ribu ton.

Kedatangan beras impor asal Vietnam ini berbarengan dengan musim panen. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, sudah mulai terjadi panen di sejumlah daerah Indonesia. Mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Bahkan panen pada saat ini dikhawatirkan akan membuat harga gabah kering panen di petani menurun hingga pemerintah akan membuat tim khusus agar harga tidak jatuh terlalu jauh dari Harga Pokok Penjualan (HPP).

Post Terkait