Duh, Industri Galangan Kapal Terpuruk, Sudah 184 Perusahaan yang Tutup

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan industri galangan kapal di kota Batam, Kepulauan Riau sedang mengalami masa krisis.

Sesuai data dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam, kata Amsakar, sejak tahun 2014 sudah 184 perusahaan yang tutup.

Meskipun tidak semuanya dari perusahaan galangan kapal, namun dampak dari penutupan 37 perusahaan sekitar 23 ribu warga Batam kehilangan pekerjaan.

“2017 ini saja sudah 31 perusahaan yang tutup. Ada 1.889 pekerja yang dirumahkan. Ekonomi kita memang sedang lemah sejak tahun 2014,” ungkap Amsakar kepada Batam Pos (Jawa Pos Group) hari ini.

Meskipun sudah cukup banyak perusahaan yang tutup, Pemko Batamsendiri kata Amsakar belum memiliki solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemko Batam saat ini adalah menghidupkan sektor pariwisata untuk mendongkrak perekonomian di Kota Industri ini.

Hal senada disampaikan Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro saat menghadiri peluncuran kapal tanker MT Zaleha H-289 pesanan PT Pelayaran Umum Indonesia (Pelumin) di lokasi galangan kapal PT Bandar Abadi, Tanjunguncang, Rabu (12/7).

Meskipun situasi industri galangan kapal sedang terpuruk, Hatanto mengaku, belum mengetahui secara pasti akar persoalannya, sehingga pihaknya belum bisa mengambil tindakan yang tepat untuk mengembalikan kondisi tersebut.

“Kondisinya seperti apa kami belum tahu. Ini masih kami kumpulkan datanya, termasuk data jumlah industri galangan yang ada di Batam,” ujar Hatanto.

Dia mengaku masih sebatas membahas dengan Pemko Batam untuk membentuk tim khusus pencari pokok persoalan.

“Kami sudah ketemu dengan Pemko. Ini akan bentuk timsus masing-masing untuk mencari data dan persoalannya. Setelah tahu pasti persoalannya maka akan ditentukan langkah selanjutnya,” ujar Hatanto.

Timsus yang dibentuk itu nantinya, jelas Hatanto, akan mempelajari baik itu pokok persoalan melemahnya geliat industri galangan kapal ataupun membuat data pembanding antara perusahaan yang sudah bangkrut dan yang masih bertahan.

“Karena bagaimanapun masih cukup banyak juga yang bertahan. Kiat-kiat mereka (perusahaan yang masih bertahan) akan kami kumpulkan. Kalau bagus bisa dijadikan acuan solusi atasi persoalan ini,” ujar Hatanto.

Post Terkait