Dolar AS Tembus Rp 13.500, Ini Analisa Penyebabnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan beberapa hari terakhir melemah tajam. Dolar AS menguat cukup tajam dan menembus Rp 13.500.

Beberapa ekonom menyebutkan, perkasanya dolar AS karena pemerintah negeri paman sam akan menerapkan kebijakan reformasi di bidang perpajakan.

Ekonom dari PT Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan menguatnya dolar AS juga karena ekspektasi normalisasi kebijakan moneter bank sentral AS yaitu Federal Reserve (The Fed), dan pelemahan bilai tukar euro akibat referendum Catalonia yang ingin merdeka dari Spanyol.

“Penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dan mata uang Asia dipengaruhi oleh beberapa faktor,” kata Josua, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Faktor lainnya, juga adanya kejadian teror penembakan di Las Vegas, lalu rencana pencalonan Gubernur The Fed untuk menggantikan Janet Yellen, yang memiliki pandangan berbeda terkait arah kebijakan moneter AS.

“Dari kombinasi beberapa faktor tersebut, kinerja dolar AS terhadap mata uang utama, dolar index, terapresiasi (menguat) ke level tertinggi dalam satu tahun, diikuti juga oleh kenaikan yield US Treasury (imbal hasil obligasi pemerintah AS) ke level 2,37%. Penguatan dolar AS ini mendorong pelemahan rupiah bersama mata uang Asia lainnya,” jelas dia.

Sementara itu, Ekonom dari INDEF, Bhima Yudhistira, rencana Donald Trump untuk melakukan pemangkasan pajak meningkatkan pembelian dolar AS. Karena, Trump berencana memangkas pajak korporasi dari 35% menjadi 20%.

“Insentif fiskal Trump ini menjadi daya tarik investor global untuk menanamkan uangnya di AS,” kata Bhima.

Bhima menyebutkan, rencana Trump menggairahkan para pengusaha dan investor yang ingin menanamkan modalnya di AS, khususnya di sektor industri manukfaktur.

“Jadi ketika insentif pajak di AS menarik, banyak pengusaha dan investor yang ingin menanam modal di AS khususnya di industri manufaktur. Ini memicu pembelian dolar dan dana keluar dari pasar modal Indonesia meningkat,” jelas dia.

Bhima mengakui, efek kebijakan ini cepat ditanggapi para pelaku pasar lantaran kebijakan pemangkasan pajak di AS berkorelasi positif. Kejadiannya mirip dengan November 2016, di mana ketika Donald Trump terpilih menjadi Presiden AS yang membuat nilai tukar rupiah lesu, bahkan cadangan devisa terkuras US$ 3,5 miliar padahal tidak ada tanda-tanda gejolak ekonomi.

“Jadi kebijakan di AS responsnya lebih cepat dari negara lain,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, menguatnya dolar AS juga karena antisipasi perubahan neraca bank sentral di beberapa negara khususnya AS. Oktober ini The Fed akan memulai tahap pertama normalisasi neraca. Dampaknya, likuiditas yang sebelumnya banjir paska krisis ekonomi 2008 kembali berkurang. Kebijakan The Fed membuat capital outflow meningkat tetutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Selanjutnya, situasi politik global juga berpengaruh, yang terbaru adalah referendum Catalonia yang ingin merdeka dari Spanyol. Ketidakpastian politik di Spanyol menambah risiko global akan masa depan Uni Eropa.

“Dari sisi domestik hasil rilis inflasi masih ditanggapi beragam oleh investor. Inflasi sebesar 0,13% dengan deflasi bahan makanan 0,53% menunjukkan bahwa permintaan rumah tangga belum pulih sepenuhnya,” tukas dia.

Post Terkait