Dolar AS Semakin Kuat Jelang Data Inflasi

Kurs dolar AS mencoba mempertahankan kenaikannya atau stabil pada Selasa (Rabu pagi WIB), karena para investor menunggu rilis data inflasi AS yang dapat mempengaruhi waktu kenaikan suku bunga Fed berikutnya.

Para investor mengalihkan fokus mereka ke Indeks Harga Konsumen (IHK) yang akan diumumkan pada Kamis (14/9). Data tersebut dapat mempengaruhi keputusan para pejabat Fed mengenai kebijakan moneter Amerika Serikat.

 Harapan untuk kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat telah berkurang baru-baru ini. Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga pada Desember sekarang hanya 41,1% menurut alat FedWatch CME Group.

Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan sedikit berubah pada 6,2 juta pada hari kerja terakhir Juli, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan dalam sebuah laporan pada Selasa (12/9).

Selama bulan tersebut, perekrutan dan pemutusan hubungan kerja (PHK) pegawai juga masing-masing mengalami perubahan 5,5 juta dan 5,3 juta.

Dalam pengurangan karyawan, tingkat karyawan yang meninggalkan pekerjaan secara sukarela serta tingkat PHK dan pemberhentian karyawan sedikit berubah masing-masing 2,2% dan 1,2%, menurut laporan tersebut.

Para analis mengatakan angka-angka tersebut menunjukkan bahwa para pengusaha mengalami kesulitan untuk menemukan pelamar dengan keterampilan yang tepat.

Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1967 dari USD1,1965 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris meningkat menjadi USD1,3289 dari USD1,3173 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,8026 dari USD0,8030.

Dolar dibeli 110,03 yen Jepang, lebih tinggi dari 109,32 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9599 franc Swiss dari 0,9540 franc Swiss, dan mencapai 1,2166 dolar Kanada dari 1,2118 dolar Kanada.

Post Terkait