Dolar AS Menghantam Mata Uang Asia

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus mengalami penguatan pekan lalu. Pada Kamis (1/3) nilai dolar berada di posisi Rp 13.798 dan sebelumnya sempat berada di posisi tertinggi yakni Rp 13.800.

Mengutip Reuters, penguatan dolar AS terjadi karena pengaruh pidato Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Dalam pidatonya ia optimis terhadap perekonomian AS serta tingkat inflasi yang masih bisa meningkat. Dengan pidato Powell pasar berspekulasi jika The Fed masih akan meningkatkan suku bunga sebanyak empat kali.

Namun pelaku pasar juga mengindikasikan pidato Powell bahwa suku bunga The Fed bisa lebih tinggi dari perkiraan.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Doddy Zulverdi, mengatakan faktor global tersebut ialah terkait rencana Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.

“FOMC muncul di akhir Januari dan menunjukkan pernyataan assessment lebih, menunjukkan The Fed lebih yakin menaikkan suku bunga, membuat market melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi suku bunga ke depan,” kata Doddy di Kantor BI.

Hal itu dikombinasikan dengan kesepakatan dalam kongres di AS di mana adanya ruang defisit AS mencapai US$ 200 miliar.

“Otomatis defisit fiskal semakin besar akan makin banyak penerbitan obligasi di AS, supplybond makin membengkak,” jelas Doddy.

Bukan hanya itu, pelemahan tersebut dipicu oleh data-data positif di AS yang dirilis sejak awal Februari. Data tersebut seperti upah, tenaga kerja, produksi, dan sebagainya. Hal ini menambah keyakinan pelaku pasar jika The Fed akan menaikkan suku bunga.

“Kemudian semakin menambah keyakinan pasar kenaikan suku bunga di AS akan naik,” ujarnya.

Post Terkait