Dolar AS Melemah Usai Fed Tahan Suku Bunga

Kurs dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Dolar melemah setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,04% menjadi 89,120 pada akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,2416 dari USD1,2405 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,4184 dari USD1,4153 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun ke USD0,8052 dari USD0,8084.

Dolar AS dibeli 109,10 yen Jepang, lebih tinggi dari 108,78 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9309 franc Swiss dari 0,9340 franc Swiss, dan bergerak turun menjadi 1,2305 dolar Kanada dari 1,2329 dolar Kanada.

Sebagai informasi, bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan target tingkat suku bunga acuan federal fund pada 1,25% sampai 1,5%. The Fed juga memberikan penilaian positif terhadap pertumbuhan ekonomi AS baru-baru ini.

“Kenaikan dalam lapangan pekerjaan, pengeluaran rumah tangga, dan bisnis investasi tetap telah menguat, serta tingkat pengangguran tetap rendah,” tulis Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), komite pembuat kebijakan the Fed dalam sebuah pernyataan.

The Fed juga memperkirakan inflasi AS pada basis 12 bulan bergerak naik tahun ini dan menjadi stabil di sekitar target bank sentral 2,0% dalam jangka menengah.

Ketua Fed saat ini, Janet Yellen, akan menyerahkan kepemimpinan bank sentral kepada Jerome Powell akhir pekan ini.

“Tidak ada kejutan dalam pernyataan hari ini. The Fed tetap berkomitmen untuk kenaikan (suku bunga) secara bertahap, yang pertama tahun ini mungkin terjadi pada Maret. Untuk saat ini, para peserta mengambil pertumbuhan yang lebih kuat, namun, seperti biasa, mereka akan memantau data yang masuk,” kata Kepala Ekonom FTN Financial Chris Low.

Di sektor ekonomi, lapangan pekerjaan sektor swasta meningkat sebesar 234.000 dari Desember ke Januari, berdasarkan penyesuaian secara musiman, mengalahkan perkiraan pasar, menurut Laporan Ketenagakerjaan Nasional yang dikeluarkan oleh ADP Research Institute.

Post Terkait