Dolar AS Berbalik Memerah Jelang Rilis Putusan The Fed

Pergerakan indeks dolar AS terpantau berbalik memerah pada perdagangan pagi ini, Rabu (21/3/2018), saat investor mengantisipasi kenaikan suku bunga dalam pertemuan kebijakan The Federal Reserve yang berakhir hari ini waktu setempat.

Investor juga menanti-nantikan petunjuk dari bank sentral AS tersebut mengenai laju kenaikan suku bunga tahun ini. Pada saat yang sama, kekhawatiran akan perang dagang tetap membuat pelaku pasar keuangan berhati-hati.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau turun 0,13% atau 0,115 poin ke level 90,256 pada pukul 10.39 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan kenaikan 0,03% atau 0,028 poin di level 90,399, setelah pada perdagangan Selasa (20/3) berakhir menguat 0,68% atau 0,606 poin di posisi 90,371.

Meskipun telah mengantisipasi pengumuman kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, pasar ragu apakah The Fed akan mengisyaratkan penaikan suku bunga sebanya tiga atau empat kali untuk tahun ini secara keseluruhan.

“Bobot signifikan terhadap empat kali kenaikan tahun ini dapat menyebabkan aksi jual pada pasar ekuitas,” ujar Jonathan Sheridan, analis di FIIG Securities di Sydney, seperti dikutip Reuters.

The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak lima kali sejak mulai melakukan pengetatan kebijakan pada akhir 2015. Namun dolar belum benar-benar meresponnya dan justru mengalami penurunan sekitar 10% terhadap sejumlah mata uang pada 2017.

“Kami mengingatkan bahwa setiap kenaikan suku bunga FOMC dalam siklus ini telah menjadi ‘kenaikan dovish’ dan dolar AS telah menurun pada hari kenaikan,” kata Richard Grace, kepala pakar strategi mata uang di Commonwealth Bank of Australia dalam risetnya.

Kekhawatiran Perang Dagang

Perhatian utama lain untuk pasar keuangan adalah momok perang dagang global.

Presiden Donald Trump diperkirakan akan mengumumkan tarif bea masuk terhadap barang-barang China senilai hingga US$60 miliar pada hari Jumat. Langkah tersebut dilakukan setelah Trump memberlakukan tarif impor baja dan aluminium awal bulan ini.

Investor khawatir tindakan Trump ini bisa meningkat menjadi perang dagang jika China dan negara-negara lain melakukan tindakan balasan ataupun tindakan lebih keras, yang mengancam pertumbuhan global.

Selain itu, pertemuan para menteri keuangan dan bank-bank sentral dari 20 negara berkekuatan ekonomi terbesar dunia pekan ini gagal mendiskusikan ancaman ini.

Negara-negara G20 hanya setuju untuk mendukung pernyataan ambigu tentang perdagangan dari 2017 serta mengakui lebih banyak kebutuhan akan dialog dan tindakan.

“Ancaman perang dagang kembali memuncaki daftar risiko yang paling sering dirujuk oleh investor, diikuti inflasi dan perlambatan pertumbuhan global,” ujar Michael Hartnett, kepala strategi investasi di Bank of America Merrill Lynch, mengutip survei pengelola dana bulan Maret bank tersebut.

Posisi indeks dolar AS                                       

21/3/2018

90,256

(-0,13%)

20/3/2018

90,371

(+0,68%)

19/3/2018

89,765

(-0,52%)

16/3/2018

90,233

(+0,10%)

15/3/2018

90,139

(+0,48%)

Post Terkait