Data Tenaga Kerja AS Tekan Rupiah Pekan Depan

Mata uang rupiah pada pekan depan diperkirakan masih mendapatkan tekanan dari dolar AS akibat membaiknya data kerja Paman Sam periode September 2017.

Pada perdagangan Jumat (6/10/2017) rupiah ditutup melemah 55 poin atau 0,41% menjadi Rp13.519 per dolar AS. Adapun kurs tengah BI dipatok Rp13.485 per dolar AS.

Dalam sepekan ini, rupiah melemah 0,35% atau 47 poin dari Jumat (29/9/2017) di posisi Rp13.472 per dolar AS. Sepanjang 2017 mata uang Garuda melesu 0,34% dari level Rp13.473 pada 30 Desember 2016.

Analis Monex Investindo Futures Agus Chandra menyampaikan, rilis data domestik pada pekan ini sebetulnya cukup bagus, sehingga mampu menopang rupiah. Namun, mata uang ini masih didominasi sentimen dolar AS.

Data tenaga kerja terbaru AS periode September 2017 yang dirilis Jumat (6/10/2017) malam menunjukkan hasil positif. Data Non Farm Payroll (NFP) memang anjlok menjadi 33.000 pekerja dari sebelumnya 156.000 pekerja, tetapi data pengangguran turun menuju 4,2% dari sebelumnya 4,4%, dan data upah naik 0,5% dari sebelumnya 0,1%.

“Pasar masih menganggap wajar NFP turun karena efek badai Irma dan Harvey, sehingga mereka lebih memantau data pengangguran dan upah,” tuturnya kepada Bisnis.com, Jumat (6/10/2017).

Pada perdagangan Jumat (6/10/2017) pukul 19.48 WIB, indeks dolar AS (DXY) menguat 0,26 poin atau 0,28% menuju 94,221. Ini menjadi level tertinggi sejak 20 Juli 2017 di posisi 94,306.

Membaiknya data tenaga kerja menguatkan sentimen hawkish Federal Reserve, sehingga menguatkan dolar AS dan menekan sejumlah mata uang lainnya termasuk rupiah. Pada pekan depan, Agus memprediksi rupiah cenderung melemah terbatas ke area Rp13.600 per dolar AS.

Menurutnya, pemerintah dan Bank Indonesia menginginkan mata uang domestik stabil di kisaran Rp13.250—13.500 per dolar AS. Alhasil ketika melewati level tersebut otoritas berpotensi melakukan intervensi.

“Sampai akhir tahun ada kemungkinan rupiah bergerak di kisaran itu [Rp13.250—13.500 ],” imbuhnya.

Post Terkait