Catat! Pembangunan Skytrain di Soekarno-Hatta Bisa Jadi Inspirasi Bandara Lain

Sebagai transportasi penunjang kereta bandara, kereta cepat tanpa awak pertama di Indonesia atau Automated People Mover System (Skytrain) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) Tangerang, Banten, juga akan dioperasikan pada 13 September mendatang.

Sebelum resmi dioperasikan, Skytrain diuji coba terhitung mulai Minggu (13/8). Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi melakukan peninjauan uji coba Skytrain tersebut di Terminal 3 Bandara- Soetta beberapa waktu lalu.

Saat melihat kereta cepat itu, Budi terlihat sangat kagum. Dia pun mengaku tidak sabar menunggu Skytrain beroperasional. “Pemerintah berharap Skytrain ini dapat segera dioperasikan dengan tetap mengutamakan keamanan, keselamatan, dan pelayanan penumpang,” katanya.

Pesatnya kemajuan yang dicapai Bandara Soetta diharapkan dapat diikuti bandar udara lain di Indonesia sehingga bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia.

“Kehadiran Skytrain di Bandara Soetta ini dapat menjadi contoh bagi bandara lain di Indonesia agar menjadi semakin berkembang, khususnya dalam meningkatkan pelayanan,” ungkapnya.

President Director PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin menambahkan, kehadiran Skytrain akan memudahkan para penumpang pesawat menuju ke masing-masing terminal.

Dengan jarak tempuh yang sangat cepat, Skytrain dapat menjadi solusi bagi para penumpang agar tidak terlambat naik pesawat. Dengan begitu, akan berdampak pada semakin tingginya pergerakan pesawat.

“Uji coba Skytrain ini merupakan sinergi BUMN yang melibatkan tiga pihak, yakni Wijaya Karya yang melakukan uji fungsi dan pengoperasian lintasan Track A dari Terminal 3 ke Terminal 2,” kata Awal.

Pihak kedua adalah PT LEN dan Woojin yang bertugas menguji fungsi dan pengoperasian kereta. Terakhir adalah PT AP II yang menguji standard operating serta standard maintenance procedure .

“Kami berharap pada masa uji coba ini segala kemungkinan dapat dipelajari sehingga pada tahap pengoperasiannya nanti dengan penumpang, pelayanan tetap terjaga,” tutur Awaluddin.

Dia menambahkan, selama proses uji coba dilakukan, Skytrain tidak melibatkan penumpang. Begitupun dengan awaknya, masih menggunakan tenaga manusia. Uji coba dilakukan baru pada track A saja. Saat pengoperasiannya pun Skytrain akan dilakukan secara bertahap.

Dimulai dari track A dari Terminal 3 ke Terminal 2 dan sebaliknya dengan panjang 1.700 meter, baru kemudian diteruskan ke Terminal 1. Tahap selanjutnya ialah menghubungkan Terminal 1, 2, 3, dan integrated building yang terkoneksi dengan stasiun kereta bandara dengan total panjang lintasan dual track 3.050 meter atau 3 kilometer.

“Beroperasinya Skytrain meningkatkan standar pelayanan di Bandara Soetta sehingga bisa berkompetisi dengan bandara-bandara terbaik di dunia ataupun di kawasan regional ASEAN,” paparnya.

Hebatnya, pemakaian Skytrain ini tidak dipungut biaya alias gratis bagi seluruh penumpang maupun pengunjung bandara. Hal ini memberi nilai positif dari layanan itu. “Proyek Skytrain ini sekaligus menjadi inisiator kereta tanpa awak di Indonesia. Sebelumnya di Indonesia belum pernah ada kereta angkutan penumpang yang beroperasi tanpa awak,” ujar Awal.

Dengan total nilai investasi sebesar Rp950 miliar, Skytrain akan menjadi moda transportasi yang membanggakan dan diharapkan bisa menjadi percontohan bagi bandara-bandara yang ada di Indonesia.

Post Terkait