Bunga Deposito Jelek, Surat Utang Jadi Pilihan

Pertumbuhan simpanan berjangka atau deposito pada Februari 2018 mengalami perlambatan yakni 5,9% Rp 2.281,2 triliun dibandingkan periode Januari 2018 8% atau Rp 2.300,5 triliun.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan perlambatan terjadi karena faktor musiman, ini artinya dalam beberapa bulan ke depan akan terjadi peningkatan kembali untuk simpanan berjangka ini.
Dia menjelaskan, selain faktor musiman dalam satu tahun terakhir bunga deposito di perbankan nasional terus mengalami penurunan sekitar 180 basis poin (bps).

“Penurunan bunga deposito ini seiring dengan penurunan suku bunga acuan BI yang sekarang berada di posisi 4,25%,” kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Senin (9/4/2018).

Dia menjelaskan di mata deposan atau pemilik dana rendahnya suku bunga dinilai kurang menarik. Ini menyebabkan adanya pergeseran penyimpanan dana ke instrumen lain.
“Bunga rendah ini menyebabkan peralihan sebagian dana ke instrumen lain yaitu surat utang. Imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun saja 6,3%,” ujarnya.
Selain itu proyeksi Fed Fund Rate yang naik hingga tiga kali ikut memacu sentimen deposan agar membeli lebih banyak surat utang.
Dari data Uang Beredar BI Februari 2018 bunga simpanan berjangka atau deposito secara rata-rata sudah berada di kisaran 5-6%. Untuk bunga simpanan berjangka waktu 1 bulan 5,65% turun dibandingkan bulan sebelumnya 5,72%. Sementara untuk tenor 3 bulan 5,97% turun dibandingkan bulan sebelumnya 6,03%.
Kemudian untuk bunga simpanan jangka waktu 6 bulan 6,40% lebih rendah dibanding bulan Januari 2018 sebesar 6,49%. Lalu untuk bunga deposito jangka waktu 12 bulan 6,56% lebih rendah dibanding bulan sebelumnya 6,68%.

Post Terkait