Bos BEI Yakin Laba Freeport Masih Kalah dari Emiten Blue Chip

Masyarakat mengapresiasi hasil negosiasi antar pemerintah dan PT Freeport Indonesia yang ujungnya perusahaan tambang asal negeri Paman Sam itu rela melepas 51% sahamnya ke pihak Indonesia. Namun pertanyaan selanjutnya melalui mekanisme apa dan siapa pihak yang akan menyerapnya.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio berharap divestasi saham Freeport Indonesia bisa dilakukan melalui pencatatan saham di pasar modal. Dia beralasan agar masyarakat Indonesia dalam arti sesungguhnya bisa memiliki saham Freeport Indonesia.

Kendati begitu, Tito memandang laba Freeport Indonesia tidak sebesar seperti yang diharapkan. Justru menurutnya laba emiten-emiten blue chip masih lebih besar.

Profit-nya (laba) Freeport itu hanya 25% BRI. Jadi besar, tapi tidak menjadi yang terbesar di Indonesia kok. BRI, Telkom, BCA jauh lebih dari itu. Hanya cuap-cuap politknya kan kencang jadi ramai,” celetuknya di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Kendati begitu, Tito memandang hal ini merupakan kesempatan yang besar untuk melakukan pemerataan pendapatan Freeport Indonesia melalui kepemilikan. Itulah mengapa dia berharap Freeport bisa melantai di pasar modal.

“Jika bisa Freeport go public dan milik rakyat Indonesia,” imbuhnya.

Tito juga bisa menjamin saham Freeport Indonesia tidak akan diambil oleh investor asing. Sebab BEI memiliki kemampuan untuk memproteksi agar asing tak masuk ke saham tertentu dalam waktu tertentu juga.

“Kalau nanti 2 tahun lagi asing beli, ya tidak apa-apa kita rakyat untung,” tambahnya.

Selain itu dengan Freeport Indonesia menjadi perusahaan terbuka di pasar modal maka semua orang di Indonesia bisa melihat laporan keuangannya. Dengan begitu kondisi keuangan Freeport Indonesia menjadi lebih transparan.

Post Terkait