BI Beberkan Jurus Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Bank Indonesia (BI) mencatat Rupiah terdepresiasi 0,27% (month to month) terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal Maret hingga hari ini. Rupiah cenderung menunjukkan tren pelemahan dengan bergerak direntang Rp13.70-Rp13.800 pada sepekan ini.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi menilai, perekonomian dalam negeri harus mengurangi ketergantungan terhadap mata uang negara Pakan Sam tersebut.

“Kita sudah menjalin kerja sama dengan Malaysia dan Thailand untuk dorong penggunaan mata uang lokal, di perdagangan di antara 3 negara tersebut,” ujar dia di Gedung BI, Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Selain itu, mengurangi ketergantungan juga dilakukan dengan mengurangi pembiayaan terhadap luar negeri. Diantaranya dengan menjaga defisit transaksi berjalan (Currenct Account Defisit/CAD). Pada 2017 CAD tercatat sebesar 1,7% PDB.

“Caranya dorong transaksi berjalan kita turun, bahkan bisa surplus seperti yang terjadi di negara Malaysia, Thailand, Singapura, Korea Selatan. Walaupun itu bukan jaminan utama, tapi itu tetap menjadi fundamental yang terus kita upayakan agar dana asing jangka pendek terus berkurang,” paparnya.

Kemudian, bagaimana membuat dana asing yang masuk pada Saham, Surat Berharga Negara (SBN) dan Obligasi Korporasi dapat bertahan lama, tidak sensitif terhadap situasi global. Maka, untuk membuat betah asing menanamkan dananya, pasar keuangan harus likuditas dan dalam.

“Artinya likuid dan dalam itu, kalau ada investor ingin menyesesuaikan protofolionya dari seri 1 ke lainnya atau dari instrumen satu ke instrumen lainnya, (dampak) ke nilai tukar tidak terlalu besar. Sehingga jika ada investor keluar, dia tidak langsung membuat pergerakkan harga di pasar-pasar keuangan itu tadi tidak terlalu volotile atau fluktuasi,” ujar dia.

Untuk memperdalam pasar keuangan, kata Doddy, pemerintah harus membuat regulasi yang lebih baik agar investor nyaman dan confident menanamkan dananya di Tanah Air.

Lalu, memberikan banyak pilihan instrumen bagi investor. Sebab, menurut dia, yang dikeluhkan investor asing adalah instrumen investasi yang sangat terbatas di dalam negeri. Saat ini pilihannya hanya SBN dan saham, untuk obligasi korporasi pun masih sedikit sekali minatnya perusahaan menerbitkan.

“Kalau instrumennya hnya itu-itu saja. Ketika ada ketidakyakinan terhadap situasi pasar SBN, maka (dana) lari saja, tanpa memindahkan ke instrumen lain. “Memang salah satu cara kita memperbaiki instrumen agar jika ada investor tidak nyaman dengan salah satu instrumen, maka dapat memindahkan uangnya ke instrumen lain. Tidak serta merta langsung lari dari Indonesia. Memperbaiki pilihan instrumen memang itu PR (pekerjaan rumah) besar,” ucapnya.

Di sisi lain, BI pun akan terus menjaga kepercayaan pasar keuangan dengan menjadi stabilisasi keuangan untuk menyakini investor asing menaruh dananya di dalam negeri.

“Pendekatan lain yang bisa dilakukan adalah menjaga pasar yakin. BI hadir untuk menstabilkan harga, baik di valas atau SBN,” pungkasnya.

Post Terkait