Banyak Aturan Jadi Alasan Alotnya Proses IPO Anak BUMN

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat saat ini masih ada 10 perusahaan yang menyatakan minatnya untuk melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) tahun ini. Dari 10 perusahaan tersebut 3 di antaranya merupakan anak BUMN.

Namun jumlah anak usaha perusahaan plat merah yang akan melakukan IPO tersebut jauh lebih rendah dari yang ditargetkan Kementerian BUMN.

Tadinya kementerian yang kini dipimpin oleh Rini Soemarno itu menargetkan bisa membawa 9 anak usaha BUMN melakukan IPO tahun ini. Nama perusahaannya pun sedikit disinggung, mulai dari anak usaha PT Pertamina yakni PT Tugu Pratama, anak usaha Pelindo II yakni Jasa Armada dan beberapa anak usaha BUMN yang sudah Tbk.

Menurut Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat, ada beberapa hal yang mungkin menjadi pertimbangan Kementerian BUMN. Seperti kesiapan dari anak usaha BUMN itu sendiri.

Selain itu, Kementerian BUMN juga tentunya memikirkan bagaimana daya serap pasar atas saham yang dilepas. Terlebih lagi mungkin saja ada anak BUMN memiliki bisnis sejenis dengan anak BUMN lainnya yang hendak IPO.

“Kementerian BUMN bisa saja merencanakan beberapa, tapi ada bahan pertimbangan. Mereka juga harus kalkulasi daya serapnya, kalau perusahananya sejenis mereka pikirkan apa bisa diserap pasar. Kalau mereka menjual, daya serap pasarnya tidak ada dan mungkin harganya jadi terlalu rendah kan mereka ragu juga,” tuturnya kepada detikFinance, Rabu (7/9/2017).

Samsul juga mengatakan pada dasarnya di BEI persyaratan IPO BUMN sama dengan perusahaan swasta lainnya. Namun perusahaan plat merah juga harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku karena terkait penjualan saham BUMN yang dianggap sebagai aset negara. Belum lagi harus melalui pendiskusian dengan DPR.

“Di Kementerian BUMN yang ada masalah penanganan approval-nya. Kan ada aturan atau undang-undang terkait rencana penjualan aset negara. Ini harus diikuti. Jadi proses privatisasi yang dilakukan BUMN ada prosedur yang harus dilalui,” tukasnya.

Ada pun 3 anak BUMN yang siap melakukan IPO di antaranya PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia, perusahaan ini akan melepas sekitar 20-30% dari saham yang disetor perusahaan atau sebesar US$ 200-300 juta.

Lalu ada PT PP Presisi yang akan melepas 35% sahamnya dari modal yang disetor penuh. Anak usaha dari PT PP (Persero) itu berharap bisa meraup dana segar sebesar Rp 3 triliun.

Kemudian PT Wika Gedung yang siap melepas 30-35% sahamnya dari modal yang disetor penuh perusahaan. Sama seperti PT PP Presisi, perusahaan ini juga mengincarkan dana segara Rp 3 triliun.

Post Terkait