Bank Sudah Lewati Masa Buruk, Uang Muka Kredit Bisa Diturunkan

Suku bunga kredit yang tinggi dan kondisi ekonomi yang melesu dinilai sebagai faktor lambatnya penyaluran kredit perbankan. Ekonom menilai, dibutuhkan relaksasi loan to value (LTV) atau menurunkan uang muka kredit agar kredit bisa terdorong.

Ekonom The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan, penurunan uang muka sangat mungkin dilakukan. Karena tren rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) masa-masa yang buruk sudah berhasil dilewati.

“Sebenarnya masa terburuk NPL bank sudah berhasil dilewati, puncaknya 2015-2016 lalu,” kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Rabu (16/8/2017).

Dia mengatakan dalam menurunkan uang muka, bank atau lembaga pembiayaan harus mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, karena LTV hanya salah satu instrumen untuk mendorong kredit,” kata Bhima

Bhima mengungkapkan, bank juga sudah banyak belajar untuk hati-hati dalam menyalurkan kredit ke sektor yang berisiko.

“Jadi manfaat kenaikkan LTV atau penurunan DP bisa dipilih untuk debitur yang memiliki catatan kredit yang baik,” imbuh dia.

Dari data BI penyaluran kredit perbankan per Juni 2016 tercatat Rp 4.518 triliun tumbuh 7,6% lebih rendah dibandingkan periode Mei 2017 8,6%.

Post Terkait