Arab Saudi Raih Rp1.429 Triliun dari Tahanan Kasus Korupsi

Jaksa Agung Arab Saudi Sheikh Saud Al Mojeb menyatakan kesepakatan antikorupsi mengumpulkan sekitar 400 miliar riyal (Rp1.429 triliun) dari para tahanan kasus korupsi.

Pernyataan resmi itu dirilis kantor informasi pemerintah Arab Saudi kemarin. Mojeb menjelaskan, kesepakatan itu mewakili sejumlah jenis aset, termasuk real estate, entitas komersial, saham, dana tunai, dan aset-aset lain. “Total jumlah orang yang dipanggil mencapai 381 orang dan 56 orang masih di tahanan,” ungkap Mojeb dikutip kantor berita Reuters.

Otoritas Arab Saudi telah membebaskan semua tahanan dari Hotel Ritz-Carlton Riyadh yang digunakan sebagai pusat interogasi dalam pembersihan korupsi. Selama tiga bulan operasi pembersihan korupsi, puluhan pejabat tinggi dan pengusaha ditahan oleh tim investigator yang menargetkan menyita sekitar USD100 miliar aset ilegal.

“Tidak ada lagi tahanan di Ritz-Carlton,” ungkap pejabat Saudi secara anonim. Dia tidak menjelaskan berapa banyak tersangka yang masih ditahan di lokasi lain di Arab Saudi. Beberapa pihak yakin, mereka telah dipindah dari Ritz-Carlton ke penjara setelah menolak mengakui tuduhan bersalah dan belum mencapai kesepakatan keuangan dengan otoritas.

Setelah semua tahanan di Hotel Ritz-Carlton Riyadh, hotel itu akan dibuka kembali untuk publik pada pertengahan Februari, dengan tarif kamar per malam paling murah sebesar 2.439 riyal.

Hotel itu diperkirakan akan kembali ramai dikunjungi tamu, apalagi setelah nama hotel tersebut semakin terkenal karena menjadi tempat penahanan para pangeran dan tokoh penting lainnya. Pekan lalu, Kejaksaan Agung menyatakan sebagian besar tahanan telah membuat kesepakatan, yakni 90 orang dibebaskan dari semua tuduhan dan 95 orang masih ditahan.

Beberapa kasus akan dibawa ke pengadilan. Para pebisnis ternama yang ditangkap termasuk Pangeran Alwaleed bin Talal memiliki perusahaan investasi global Kingdom Holding dan Waleed al-Ibrahim yang mengontrol perusahaan penyiaran regional MBC.

MBC melaporkan, investigasi menyatakan Ibrahim sepenuhnya tidak bersalah dan Pangeran Alwaleed menegaskan tidak bersalah. Meski demikian, para pejabat Arab Saudi menyatakan kedua tokoh itu telah membuat kesepakatan setelah mengakui terjadi pelanggaran.

Saat wawancara dengan Reuters di Hotel Ritz-Carlton, beberapa jam sebelum dia dibebaskan pada27 Januari, Pangeran Alwaleed menyatakan, dia diperlakukan dengan baik di tahanan dan menyebut kasusnya sebagai akibat kesalahpahaman.

Saat wawancara itu dia tampak nyaman di ruang pribadi berhias emas lengkap dengan kamar makan dan dapur yang penuh dengan kebutuhannya pada makanan vegetarian. Hotel itu memiliki 492 kamar tamu dan suite serta 21 hektare taman. Alwaleed tampak lebih kurus dibandingkan penampilan sebelumnya pada Oktober lalu. Dia pun menumbuhkan janggut saat ditahan di hotel itu.

“Saya tidak memiliki apa pun untuk disembunyikan. Saya sangat nyaman. Saya sangat rileks. Saya bercukur di sini, seperti di rumah. Tukang potong rambut saya datang ke sini. Saya seperti di rumah, sejujurnya bicara,” kata Alwaleed yang tetap bisa berkomunikasi dengan anggota keluarga saat di tahanan. Dia menyatakan mendukung upaya reformasi Saudi oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman. “Tidak ada dakwaan. Hanya ada beberapa diskusi antara saya dan pemerintah,” ungkap Alwaleed.

Pangeran Alwaleed ditahan di Hotel Ritz-Carlton sejak awal November bersama puluhan pejabat dan pengusaha senior sebagai bagian dari rencana putra mahkota mereformasi Saudi dan memperkuat posisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Pada hari pembebasannya, di luar istana Pangeran Alwaleed di Riyadh, puluhan mobil berjajar di pintu masuk dan bendera Arab Saudi berkibar di atasnya. Para penjaga tampak bercanda dan minum kopi. Kantornya menyatakan pangeran telah mengunjungi keluarganya tanpa penjelasan lebih rinci lagi.

Saat ditanya apakah kejaksaan agung menilai Pangeran Alwaleed tidak bersalah, pejabat senior Saudi menyatakan, “Saya tidak akan menyangkal atau mengonfirmasi apa yang dia katakan. Secara umum ini kembali pada mereka yang menyimpulkan penyelesaiannya dan mereka tidak menyimpulkan tanpa menuduh mereka melakukannya secara tertulis dan berjanji tidak akan mengulanginya.”

Post Terkait