Aksi Jual Investor Asing Tekan IHSG

Indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 59,784 poin atau 1,03 persen ke level 5.765,42 dalam sesi perdagangan Jumat (21/7).

Total aksi jual sebesar Rp 438,41 miliar. Sedangkan net sell asing mencapai Rp 431,82 miliar.

Direktur PT Investa saran Mandiri Hans Kwee menyatakan, aksi jual investor asing cukup menekan IHSG.

Sebab, komposisi kepemilikan asing pada portofolio ekuitas mencapai lebih dari 50 persen.

’’Langkah investor asing yang cenderung keluar dari pasar saham merupakan bagian dari mitigasi risiko investasi dalam menyikapi kondisi politik dan kebijakan ekonomi di AS,’’ ujarnya.

Bank Indonesia (BI) mencatat dana asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia pada kuartal kedua 2017 mencapai USD 4,3 miliar.

Dengan begitu, akumulasi capital inflow mulai Januari–Juni 2017 mencapai USD 9,6 miliar atau sekitar Rp 124,8 triliun.

Posisi cadangan devisa pada akhir kuartal kedua 2017 tercatat USD 123,1 miliar.

Jumlah tersebut meningkat dari posisi akhir kuartal pertama 2017 sebesar USD 121,8 miliar.

BI juga menahan suku bunga acuan BI 7-days reverse repo rate (BI 7-DRRR) di 4,75 persen pada Kamis (20/7).

Keputusan tersebut diambil dalam rapat dewan gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama delapan jam hingga pukul 23.00.

Analis menduga lamanya pengambilan keputusan menunjukkan bahwa BI sedikit gamang.

Ekonom Merrill Lynch Asia Pacific Mohamed Faiz Nagutha menjelaskan, pengumuman suku bunga acuan oleh BI disampaikan beberapa jam setelah pengumuman Bank Sentral Eropa (ECB) mengenai pandangannya yang cenderung dovish dalam memberikan stimulus moneter.

Hal itu dapat memengaruhi capital outflow dari emerging market seperti Indonesia.

’’Waktu pengumuman suku bunga acuan BI setelah pengumuman ECB, BI memperhatikan risiko eksternal dari normalisasi kebijakan di bank-bank sentral utama,’’ ujarnya.

Aliran dana keluar di pasar saham sehari setelahnya menunjukkan risiko dana keluar yang terjadi pada minggu berikutnya.

“Pergerakan positif IHSG akan dibayangi dengan kekhawatiran risiko capital ouflow yang meningkat,’’ ujar analis First Asia Capital David Sutyanto.

Jika indeks menguat lagi pada pekan depan, katalisnya, antara lain, kenaikan pemeringkatan dari Fitch Ratings pada level BBB- dengan outlook positif.

Artinya, surat utang Indonesia dinilai memikat dan masih bisa menarik dana-dana masuk lewat pasar surat utang.

Selain itu, laporan kinerja emiten pada kuartal kedua diharapkan segera dirilis agar menjadi stimulus bagi pasar saham.

Post Terkait