2 Proyek Pipa Gas Mangkrak 11 Tahun, Ini Penjelasan BPH Migas

Proyek pipa transmisi ruas Cirebon-Semarang yang sudah dilelang dan dimenangkan oleh PT Rekayasa Industri (Rekind) sejak 2006 atau 11 tahun lalu belum dibangun sampai hari ini.

Bukan hanya pipa Cirebon-Semarang saja, pipa transmisi ruas Kalimantan-Jawa (Kalija) II yang dimenangkan PT Bakrie & Brothers Tbk juga sudah mangkrak selama 11 tahun.

Berdasarkan pengakuannya, Rekind belum mengerjakan pipa Cirebon-Semarang karena kesulitan mendapatkan sumber pasokan gas, dan juga belum mendapatkan pembeli gas dari pipa tersebut. BPH Migas telah memberi batas waktu bagi Rekind hingga 15 September 2017 untuk memberi kepastian.

Serupa dengan pipa Cirebon-Semarang, Bakrie kesulitan mendapat sumber pasokan gas untuk dialirkan melalui pipa Kalija II.

Kalau pasokan gasnya belum jelas, kenapa dulu BPH Migas melelang proyek-proyek tersebut?

Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa, menuturkan saat dilelang 2006 dulu sebenarnya alokasi gas sudah disiapkan, misalnya untuk pipa Kalija akan mendapat suplai dari Bontang.

Tapi pada waktu itu pemerintah menggeser alokasi, gas dari Bontang diekspor, tidak lagi untuk kebutuhan domestik. Paradigma kebijakan energi dulu berbeda dengan sekarang, gas dijadikan sumber penerimaan negara, belum dijadikan sebagai penggerak perekonomian nasional.

Dahulu yang dikejar adalah devisa dari ekspor komoditas, bukan nilai tambah yang tercipta di dalam negeri.

“Itu (pipa Cirebon-Semarang dan Kalija) hasil lelang BPH Migas tahun 2006. Saat lelang dulu alokasi gasnya sudah ada, antara lain dari Bontang. Namun kebijakan saat itu gas tersebut justru digunakan untuk ekspor, untuk kepentingan tambahan devisa negara,” kata Fanshurullah kepada detikFinance, Kamis (20/7/2017).

Kalau pembangunan pipa gas berjalan, BPH Migas yakin ada industri dan pembangkit listrik akan memperoleh efisiensi yang signifikan. Dibanding gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) pun, gas pipa masih lebih efisien.

“Secara akademik juga sudah ada kajian perbandingan antara menggunakan pipa dibanding LNG untuk ruas dari Bontang ke Tambak Lorok, Semarang, di mana hasilnya lebih murah tarif pengangkutan (toll fee) dan juga harga gasnya menggunakan pipa ketimbang dengan LNG,” ujarnya.

Gas sebagai sumber energi yang murah dapat meningkatkan daya saing industri di dalam negeri. Pembangkit-pembangkit bertenaga gas menghasilkan listrik yang jauh lebih murah dibanding pembangkit yang berbahan bakar solar. Biaya produksi barang-barang di dalam negeri jadi lebih efisien, bisa bersaing dengan barang impor.

Penggunaan gas juga mengurangi impor bahan bakar minyak (BBM). Karena itu, Fanshurullah berharap pemerintah dapat memberikan kepastian alokasi gas untuk pipa Cirebon-Semarang dan Kalija II.

“Sebenarnya harga gas itu lebih murah ketimbang impor BBM yang jauh lebih mahal untuk listrik dan industri dalam negeri. Mudah-mudahan akan ada sikap resmi pemerintah terkait kepastian pasokan gas untuk 3 proyek tersebut,” tutupnya.

Post Terkait